1.11.10

“MENGATASI GROGI SAAT BICARA DI DEPAN PUBLIK”

Banyak orang melontarkan pertanyaan bagaimana mengatasi grogi pada saat bicara di depan umum
(publik) ? Meski ia sudah mempersiapkannya sebaik mungkin tetap saja grogi.
Masalah grogi adalah masalah yang dialami oleh siapa saja yang sedang
belajar bicara di depan publik (selanjutnya kami sebut bicara). Keterampilan
ini adalah keterampilan proses, sebuah keterampilan yang tidak datang
seketika. Artinya, bila ingin mengusainya diperlukan banyak berlatih dan
berlatih.

Untuk mengupas masalah grogi dan cara mengatasinya kami akan menggunakan
dua pendekatan,yaitu :
>> Pendekatan Neurologis
yakni bagaimana pikiran kita mencerna "keberadaan publik" (audience). 
>> Pendekatan Praktis
yakni bagaimana kiat-kiat praktis menghadapi grogi.

Setidaknya, dua pendekatan itu sudah kami praktikkan dalam khidupan sehari - hari.
Baik, selanjutnya kami jelaskan pendekatan pertama, kenapa secara neurologis
(syaraf otak) seseorang bisa menjadi grogi ?. Seseorang menjadi grogi atau
bahkan sebaliknya menjadi senang bila di depan pulik itu sangat tergantung
bagaimana syaraf otak merespon atau menanggapi sesuatu yang berada di luar,
yaitu --dalam hal ini-- audience (publik).
Perilaku (grogi, takut, senang dan lain-lain) merupakan hasil dari respon
pikiran kita. Kalau kita merespon/menanggapi sesuatu di luar adalah sesuatu
yang menakutkan, maka pikiran (syaraf) segera mengolahnya menjadi sebuah
ketakutan. Sebaliknya, kalau kita meresponnya sesuatu yang menyenangkan,
maka semua sel-sel dan jutaan syaraf segera mengolahnya menjadi hal yang
menyenangkan.
Lebih kongkritnya begini. Kalau Anda membayangkan jeruk nipis (sesuatu yang
berada di luar Anda) terasa kecut, maka syaraf otak segera membayangkannya
rasa kecut itu. Bahkan dengan hanya membayangkan saja air liur bisa keluar
sebagai respon terhadapnya.
Sebaliknya, kalau Anda membayang buah anggur yang segar, baru keluar dari
kulkas, syaraf otak segera membayangkannya buah manis yang menyegarkan.
Begitulah cara pikiran kita bekerja, atau meresponnya. Bila Anda
menanggapinya dengan negatif maka pikiran bekerja dengan cara negatif,
milyaran sel syaraf bekerja untuk memperkuat respon negatif Anda. Bila Anda
meresponnya dengan cara positif, maka seluruh jaringan syaraf bekerja sekuat
tenaga untuk memperkuat respon positif Anda.
Audience (publik) bukanlah buah jeruk nispis yang kecut atau buah anggur
yang manis menyegarkan.

Audience adalah sesutau yang netral sifatnya.
"Manis" dan "kecut"-nya, arau "menakutkan" (yang membuat Anda grogi) atau
"menyenangkan" sangat tergantung bagaimana Anda meresponnya.
Ketika Anda meresponnya sebagai seuatu yang "menakutkan" syaraf otak segera
bekerja dengan cara yang negatif. Hasilnya mejadi negatif.
Syaraf otak segera bekerja untuk menemukan sejumlah alasan negatif untuk
meyakinkan bahwa audience itu "menakutkan".
Alasan-alasan yang ditemukan oleh pikiran negatif berupa:
1) audience
terlalu banyak dan banyak orang yang sudah pintar bicara, maka saya kurang
pede;
2) audience akan meneriaki "huuuuuuu..?" bila saya salah;
3) audience
akan mempergunjingkan saya bila saya salah;
4) saya akan malu bila apa yang saya sampaikan tidak menarik;
5) saya akan
malu bila saya salah dalam bicara nanti dan;
6) masih banyak alasan negatif
yang mengantarkan Anda menjadi semakin tidak percaya diri atau grogi.
Hasilnya, keringat dingin keluar, gemetar, bicara tidak lancar dan
salah-salah terus selama bicara.

Pada saat seperti itu, pikiran sibuk
memikirkan audience yang "menakutkan"
ketimbang memimikirkan materi yang sedang di sampaikan.
Akan menjadi berbeda hasilnya bila Anda meresponnya secara positif.
Pikran Anda akan segera mencarikan sejumlah alasan positif yang menguatkan
Anda tampil lebih percaya diri.
Anda akan tampil lebih percaya diri bila memandang audience sebagai:
1) sekelompok manusia yang sedang memberikan kesempatan baik pada Anda untuk
bicara;
2) mereka tidak akan menghukum bila Anda keliru;
3) keliru dalam berlatih bicara adalah hal yang wajar yang dialami oleh
setiap orang;
4) mereka juga belum tentu memiliki keberanian untuk bicara;
5) kalau pun ia diberi kesempatan bicara ia pasti melakukan kesalahan
seperti Anda;
6) dalam sejarah belum ada audience yang "mencemooh" pembicara
bila dalam menyampaikannya secara santun dan;
7) ini adalah kesempatan
terbaik untuk berlatih bicara.
Dengan kata lain, audiene bukan menjadi beban pikiran selama Anda bicara.
Bila perlu Anda cuek-bebek (tapi sopan) selama bicara.
Ketika Anda telah mengusai audience dengan cara respon positif seperti
tersebut di atas, pikiran Anda tinggal fokus pada materi. 

Perlu dicatat bahwa mengapa seorang pembicara grogi karena pikirannya selama
bicara sibuk memikirkan audiencenya yang dianggap "menakutkan". Menakutkan
atau tidaknya sangat tergantung bagaimana pikiran kita "menafsirkannya".
Bila menafsirkannya sebagai hal yang tidak menakutkan, maka pikiran akan
lancar, fokus pada topik, bicara pun lancar tanpa beban grogi.
Semua yang kami jelaskan di atas adalah mengunakan pendekatan neurologis.

Selanjutnya kami menggunakan pendekatan praktis dalam mengatasi grogi.
Sebelum kami memberikan tips bagaimana cara mengatsi grogi saat pidato perlu
Kami ingatkan kembali bahwa keterampilan bicara
(pidato) adalah keterampilan proses. Tidak ada orang yang langsung menjadi
ahli bicara. Semuanya diawali dari, malu, gemetar dengan keringat dingin,
grogi dan sejuta rasa lainnya. Jangankan bagi yang belum pernah pengalaman,
seorang yang sudah pengalaman pun kadang- kadang masih dihinggapi rasa
kurang pede dan grogi. Jadi kalau menuggu sampai tidak ada rasa grogi,
dibutuhkan waktu dan jam terbang yang lama. Butuh proses.

Cara-cara berikut ini adalah cara praktis yang saya gunakan bagaimana
mengatasi grogi.
Pertama, tingkatkan rasa percaya diri (pede). Kalau kita pede, keberanian
meningkat, tetapi kalau belum apa-apa sudah takut dulu, rasa pede mengecil.
Akibatnya sudah grogi dulu sebelum bicara. Untuk bisa meningkatkan rasa
pede, coba sebelum Anda bicara, Anda membayang seorang tokoh pintar bicara
yang menjadi idola Anda.
Setelah membayangkan secara jelas, anggap saja dia merasuk dalam jiwa Anda
yang membantu Anda pada saat bicara. Anggap saja dia yang bicara, tapi bukan
Anda.
Kedua, berani bicara kapan dan dimana saja bila ada kesempatan tampil di
depan umum. Jangan takut salah dan takut ditertawakan, bicara dan bicaralah.
Kalau Anda tidak pernah mencobanya, maka tidak pernah punya pengalaman.
Jangan berpikir, benar-salah, bagus-tidak, mutu-tidak, selama bicara.
Pokoknya, Anda sedang uji nyali, berani atau tidak. Ketika Anda berani
mencobanya, berarti nyali Anda hebat.
Semakin sering Anda lakukan, semakin kuat nyalinya dan tidak takut lagi.
Pokoknya Anda harus berani malu.
Ketiga, mulailah dari kelompok kecil. Berlatihlah bicara pada
kelompok-kelompok kecil dulu seperti karang taruna, kelompok belajar,
pertemuan RT/RW. Bicaralah sebisanya dan jangan buang kesempatan. Yang
seperti ini sudah saya lakukan, saya mulai dari kelompok belajar, panitia
seminar, dan acara-acara pengajian. Lama- ama saya biasa. Ingat Anda bisa
karena biasa.
Keempat, tulis dulu sebagai persiapan. Sebelum bicara, alangkah baiknya
ditulis dulu topik dan urutan penyampaiannya. Sebab, tanpa ditulis dulu,
biasanya lupa saat bicara dan menjadikan materinya tidak runtut. Ada dua
cara dalam menulis, menulis lengkap kenudian tinggal membaca atau tulis
pokok-pokonya saja. Bila Anda menulis lengkap akan sangat membantu Anda
bicara, tetapi keburukannya membosankan. Apalagi intonasi bacanya jelek.
Yang baik adalah pokok- pokok saja, kemudian Anda menguraiakannya saat
bicara, tetapi keburukannya, Anda bisa lupa tentang datailnya.
Kelima, akan lebih baik kalau memiliki kebiasaan menulis. Menulis apa saja,
cerita, artikel, surat atau catatan harian. Catatan harian akan sangat
membantu. Kenapa menulis? Karena dengan menulis adalah cara efektif untuk
membuat sebuah "bangunan logika", sebuah bangunan yang masuk akal. Bila Anda
terbiasa menuliskan topik-topik yang masuk akal, maka akan membantu pada
saat bicara. Tinggal memanggil ulang saja.
Keenam, perbanyak membaca.
Orang bicara atau menulis, tidak lepas dari
kegiatan membaca. Dengan banyak membaca menjadi banyak pengetetahuan yang
dapat dijadikan acuan pada saat bicara atau menulis. Kebuntuan dalam bicara
terjadi karena tidak saja grogi tetepi juga karena terbatasnya acuan
(informasi) yang dimilikinya.
Ketujuh, janganlah menjadi pendiam saat ada diskusi atau debat.
Bicaralah, jangan pikirkan Anda menang atau kalah dalam berdebat, tetapi
jadikannlah media debat menjadi media pembelajaran dalam mengasah
keterampilan bicara. Juga, biasakanlah berdsiskusi, jangan hanya menjadi
pendengar yang baik (diam saja) tapi Anda harus menjadi pembicara yang baik.
Kedelapan, rajin mengevaluasi diri sehabis bicara. Karena berbicara
merupakan keterampilan proses, maka sebaiknya rajin mengevaluasi diri setiap
saat sehabis bicara. Seringkali (pengalaman saya) saya merasa tidak puas
dengan hasil akhir bicara. Selalu ada saja kekurangannya, banyak topik yang
lupa tidak tersampaikan. Kekurangan ini harus menjadi catatan untuk tampil
lebih baik pada kesempatan mendatang.
Kesembilan, komitmen untuk terus berlatih. Tiada sukses tanpa latihan
terus menerus. Tiada juara tanpa banyak latihan. Tiada bicara tanpa grogi
bila hanya tampil (berlatih) satu atau dua kali saja. Bicaralah saat ada
kesempatan bicara, karena keterampilan berbicara hanya dapat diperoleh
dengan "berbicara" bukan dengan cara "belajar tentang". Satu ons praktik
bicara lebih baik dari pada satu ton teori berbicara. 
Selamat mencoba ,,, ;)

2 komentar: